RESPONSIBILTY ACCOUNTING
Laporan prestasi harus disusun
sesuai dengan konsep akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting).
Akuntansi pertanggungjawaban adalah penyusunan laporan-laporan prestasi yang dikaitkan kepada individu atau
anggota-anggota kelompok sebuah organisasi dengan suatu cara yang menekankan
pada faktor-faktor yang dapat dikendalikan oleh individu atau anggota-anggota
kelompok tersebut. Fokus akuntansi pertanggungjawaban adlah unit-unit organisasi
yang bertanggung jwab untuk menyelesaikan kegiatan atau mencapai tujuan
tertentu.
LAPORAN PRESTASI DAN STRUKTUR ORGANISASI
Tanggung jawab tidak mungkin
dibebankan kepada siapapun yang tidak diberi wewenang untuk melakukan
tugas-tugas dalam rangka mengemban tanggung jawab tersebut. Oleh karena itu
sebelum menerapkan sistem akuntansi pertanggungjawaban, seluruh bidang wewenang
dan tanggung jawab didalam organisasi harus ditetapkan lebih dahulu secara
jelas. Bagan organisasi dan dokumen-dokumen harus diuji untuk menentukan
struktur wewenang dan tanggung jawab organisasi. Kedua hal tersebut memang
sulit karena terkadang kita menjumpai tugas-tugas yang saling tumpangtindih,
wewenang-wewenang yang tidak sesuai dengan tanggung jawabnya dan pengeluaran-pengeluaran
yang sulit ditentukan siapa yang sebenarnya harus bertanggungjawab.
UKURAN PRESTASI : Moneter dan
Nonmoneter
Laporan prestasi hampir selalu
dinyatakan dengan unit moneter (uang), karena unit moneter dianggap sebagai
denominator umum dan dapat dijumlahkan. Namun demikian, ukuran-ukuran prestasi
yang tidak menggunakan unit moneter tidak boleh diabaikan. Selisih laba yang
dihasilkan dari tindakan yang tidak sesuai etika dan hukum. Umpamanya, sudah
barang tentu tidak patut kita puji. Para manjer yang berpandangan sempit boleh
jadi mengambil tindakan yang hanya menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi
membahayakan perusahaan dalam jangka panjang.
Orang-orang yang bertanggung jawab
terhadap terlaksananya aktivitas tertentu, terutama yang menduduki lini
pertama, secara rutin harus disodori ukuran-ukuran prestasi moneter dan
nonmoneter. Ukuran nonmoneter harus dinyatakan dalam hubunganya dengan
aktivitas atau sumberdaya yang harus mereka pertanggungjawabkan.
Frekuensi Pelaporan Prestasi
Frekuensi pelaporan prestasi
harus disesuaikan dengan kebutuhan agar manajer dapat melakukan tindakan
perbaikan dengan tepat. Meskipun laporan prestasi tahunan memang dapat membantu
rencana mengembangkan dan mengevaluasi prestasi manajer, namun tidak berguna
untuk menyesuaikan operasi sepanjang tahun. Jika laporan prestasi harian
diperlukan oleh manajer tertentu, maka laporan dengan frekuensi harian memang
perlu dibuat. Akan tetapi manfaat dan biaya laporan perlu dipertimbangkan.
Masalah ini mengingatkan kita bahwa frekuensi pelaporan itu berbeda-beda
bergantung pada jenjang manajemen dan tingkatan karyawan pada setiap jenjang.
PUSAT-PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN
Dalam akuntansi pertanggungjawaban,
laporan prestasi disiapkan untuk setiap segmen. Segmen dapat berupa departement,
bagian-bagian yang lebih kecil dari departemen atau sekelompok departemen yang
beroprasi dibawah kendali dan wewenang seorang manajer yang bertanggung jawab,
setiap unit organisasi yang disiapkan laporan prestasinya disebut pusat
pertanggungjawaban. Untuk tujuan evaluasi pretasi keuangan, pusat-pusat
pertanggungjawaban diklasifikasikan menjadi pusat biaya, pusat pendapatan,
pusat laba dan pusat investasi.
Pusat
biaya (cost center) secara finansial hanya bertanggung jwab atas terjadinya
biaya. Pusat biaya tidak memiliki tanggung jawab untuk memperoleh pendapatan.
Pusat biaya boleh jadi berupa segmen yang lebih kecil dari departemen dan dapat
juga lebih besar yang mencakup aspek utama sebuah organisasi.
Pusat
pendapatan (revenue center) bertanggung jawab atas timbulnya pendapatan,
baik dari penjualan barang dagangan dari barang jadi maupun jasa. Jika
pendapatan dan biaya dievaluasi secara terpisah, maka pusat pertanggungjawaban
tersebut tersebut mempunyai tanggungjawab ganda (dual responbility).
Pusat
laba (profit center) bertanggung jawab terhadap laba, yaitu selisih antar
pendapatan dan biaya. Perusahaan secara keseluruhan dapat dianggap sebagai
pusat laba.
Mengukur Efesiensi dan
Efektivitas
Efesien selalu diukur dengan
menggunakan anggaran fleksibel, bukan anggaran statis. Prestasi departemen
produksi tidak hanya diukur dari sudut pandang efiensinya, tetapi juga
efektivitansya. Efisiensi merupakan perbandingan antara biaya sesungguhnya dan
anggaranya, adapun efektivitas merupakan perbandingan antara volume produksi
yang dicapai dan volume produksi yang menjadi target.
Biaya Standar
Biaya
standar (standard cost) adalah anggaran
untuk membuat satu unit produk. Biaya standar menunjukan jumlah biaya yang
seharusnya dikeluarkan unrtuk membuat satu unit produk dalam kondisi operasi
yang efesien. Biaya standar dapat ditetapkan dengan menganalisis biaya produksi
secara teknik atau dengan menganalisis data historis yang disesuakan dengan
perubahan-perubahan yang dapat terjadi, baik perubahan dalam produk, perubahan
dalam teknologi, maupun perubahan dalam biaya.
Pusat Biaya Standar dan Pusat
Biaya Kebijakan
Pusat biaya dapat dibedakan menjadi
pusat biaya standar dan pusat biaya kebijakan. Pusat biaya standar (standart
cost center), atau sering disebut juga pusat biaya teknik (engineered cost
center), adalah pusat biaya yang sebagian besar hubungan antara input dan
outputnya dapat ditentukan secara jelas.
Pusat
biaya kebijakan (discretionary cost center) adalah pusat biaya yang
sebagian besar hubungan antara input dan outputnya tidak dapat atau sulit
ditentukan.
Biaya
kebijakan (dicretionary cost) ditetapkan dalam tahun anggaran tertentu
dengan jumlah tetap menurut kebijakan manajemen. Perubahan biaya ini tidak
berpengaruh pada produksi atau kapasitas jasa dalam jangka pendek.
Memasukan Unsur Biaya Dalam
Menilai Prestasi Pusat Pendapatan
Biaya terkendali juaga harus
dipertimbangkan pada waktu menilai secara keseluruhan prestasi pusat
pendapatan. Jika tidak mempertimbangkan biaya, maka pusat pendapatan terdorong
untuk melakukan praktik penjualan yang tidak ekonomis. Praktik yang tidak
ekonomis itu misalnya adalah periklanan yang berlebihan dan terlalu banyak
menghabiskan waktu unutk melayani pelanggan kecil. Biaya terkendali pada pusat
pendapatan mencakup biaya penjualan tetap dan variabel.
Biaya-biaya penjualan dapat
diklasifikasi menjadi order getting cost dan order
filling cost. Order getting cost adalah biaya yang
dikeluarkan untuk mendapat order dari konsumen, misalnya biaya periklanan, gaji
dan komisi pramuniaga, biaya perjalanan dan telpon. Order felling cost adalah
biaya yang dikeluarkan untuk penyerahan barang sampai ketangan konsumen, misalnya
biaya penyimpanan, pembungkusan, dan pengangkutan.
LAPORAN PRESTASI PUSAT LABA
Laporan prestasi untuk pusat laba
membandingkan antara laba yang sesungguhnya dicapai dan laba menurut anggaran.
Terdapat 2 jenis pengukuran profitabilitas dalam pusat laba. Pertama, pengukuran
prestasi manajemen, yaitu mengukur keberhasilan manajer. Kedua, pengukuran
prestasi ekonomi, yaitu mengukur keberhasilan pusat laba sebagai
kesatuan ekonomi.
Berbagai Tipe Pengukuran
Profitabilitas
Profitabilitas
manajer pusat laba dapat diukur dengan 5 tipe pengukuran sbb :
1.
Contibution
Margin
2.
Laba
langsung
3.
Laba
terkendali
4.
Laba
sebelum pajak
5.
Laba
bersih
DESENTRALISASI
Sentralisai versus desentralisasi
Sentralisasi adalah pemusatan pada
manajemen teras untuk mengambil semua wewenang keputusan. Semua fungsi utama
perusahan (misalnya fungsi-fungsi pemasran, produksi, dan personalia), dalam
prusahaan sentralistis, dikendalikan oleh menejemen teras. Sentralisai memiliki
kebaikan dan kelemahan.
Desentralisasi adalah pendelegasian
wewenang kepada manjer pelaksana, yang jenjangnya lebih rendah, untuk mengambil
keputusan tertentu di unit organisasi yang dipimpinya. Semakin rendah jenjang
manajer yang diberi delegasi wewenang, maka semakin besarlah desentralisasi.
Pengukuran Prestasi
Akuntansi pertanggung jawaban,
sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya adalah penyusunan pelaporan
prestasi yang dikaitkan kepada individu atau manajer dalam suatu organisasi,
yang menekankan pada faktor-faktor yang dapat dikendalikanya. Laporan-laporan
akuntansi pertanggungjawaban dapat dibuat untuk pusat biaya, pusat pendapatan,
pusat laba, dan pusat investasi.
RETURN ON INVESMENT (ROI)
ROI
mengukur laba per rupiah investasi. Rumus untuk menghitung ROI adalah
ROI = Laba /
investasi
ROI
dapat juga dihitung secara rinci dengan rumus :
ROI
= Perputaran investasi x Profit margin
Adapun
perputaran investasi dan profit margin adalah :
Perputaran
investasi = penjualan / investasi
Profit
margin = laba / penjualan
Apabila
perputaran investasi dikalikan dengan profit margin, maka hasilnya sama dengan
laba dibagi investasi, seperti berikut ini :
ROI
= penjualan / investasi x laba / penjualan
= laba / investasi
Kebaikan ROI
Ada 3 kebaikan ROI :
1.
ROI
mendorong manajer SBU untuk memperhatikan saling hubungan antara penjualan,
biaya dan investasi.
2.
ROI
medorong manajer SBU untuk menghemat biaya
3.
ROI
mencegah investasi yang dipandang berlebihan
Kelemahan ROI
Ada 2 kelemahan ROI :
1.
ROI
mendoorong manajer untuk tidak melakukan investasi yang akan menurunkan ROI
serata SBU, meskipun sebenarnya investasi tersebut menaikan laba perusahaan
secara keseluruhan. Kelemahan ini akan dijelaskan dibagian yang membahas residual income.
2.
ROI
mendorong manajer untuk memfokuskan laba jangka pendek (short run) yang
merugikan perusahaan jangka panjang (long run).
Dasar investasi
Meskipun ROI merupakan konsep
sederhana dan relevan, namum ROI SBU belum dapat dihitung apabila manajemen
belum menentukan bagaimana laba dan investasi SBU harus diukur. Karena maksud
utama dari perhitungan ROI adalah untuk mengavaluasi efektivitas masing-masing
SBU dengan menggunakan aktiva yang dipergunakan oleh SBU tersebut, maka banyak
perusahaan menentukan investasi sebesar rerata dari unvestasi total sebuah SBU
selama periode evaluasi.
Laba SBU
Laba SBU adalah pendapatan SBU
dikurangi biaya operasi SBU. Biaya-biaya kanntor pusat yang dialokasi ke SBU
tidak boleh dimasukan sebagai biaya SBU untuk tujuan perhitungan ROI, kecuali
untuk jasa yang secara pasti atau jelas dapat diidentifikasi ke SBU tertentu,
seperti biaya variabel untuk memproses piutang SBU.
RESIDUAL INCOME (RI)
RI sebagai alternatif untuk mengukur
prestasi SBU adalah selisih antara laba SBU dan kembalian minimal (minimum
required rate of return) yang telah dotetapkan oleh kantor pusat. Kembalian
minimal adalah presentase tertentu dikalikan dengan aktiva SBU. Apabila RI
digunakan untuk mengevaluasi prestasi SBU, maka manajer masing-masing SBU lebih
termotivasi untuk lebih memaksimalkan RI, bukan ROI.
Kebaikan RI
Telah dijelaskan salah satu
kelemahan ROI bahwa manajer SBU mungkin menolak usulan investasi yang
sebenarnya menguntungkan perusahaan tetapi menurunkan ROI rerata SBUnya.
Kelemahan ini tidak dijumpai kalau kita menggunakan RI. Inilah keunggulan utama
RI dibandingkan ROI. Keunggulan lainya adalah bahwa RI dapat menggunakan
kembalian minimal yang berbeda-beda untuk berbagai jenis aktiva.
Kelemahan RI
Ada 2 kelemahan :
1.
RI,
sebagaimana ROI, dapat mendorong manajer untuk berpandangan jangka pendek.
2.
Tidak
seperti ROI, RI adalah ukuran profitabilitas absolut, yakni dalam angka rupiah.
Jadi, apabila tingkat investasi dua SBU berbeda, maka pembandingan langsung
prestasi dua SBU tersebut tidak adil.