Senin, 23 Februari 2015

RESPONSIBILTY ACCOUNTING



RESPONSIBILTY ACCOUNTING

            Laporan prestasi harus disusun sesuai dengan konsep akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting). Akuntansi pertanggungjawaban adalah penyusunan laporan-laporan  prestasi yang dikaitkan kepada individu atau anggota-anggota kelompok sebuah organisasi dengan suatu cara yang menekankan pada faktor-faktor yang dapat dikendalikan oleh individu atau anggota-anggota kelompok tersebut. Fokus akuntansi pertanggungjawaban adlah unit-unit organisasi yang bertanggung jwab untuk menyelesaikan kegiatan atau mencapai tujuan tertentu.
LAPORAN PRESTASI DAN STRUKTUR ORGANISASI
            Tanggung jawab tidak mungkin dibebankan kepada siapapun yang tidak diberi wewenang untuk melakukan tugas-tugas dalam rangka mengemban tanggung jawab tersebut. Oleh karena itu sebelum menerapkan sistem akuntansi pertanggungjawaban, seluruh bidang wewenang dan tanggung jawab didalam organisasi harus ditetapkan lebih dahulu secara jelas. Bagan organisasi dan dokumen-dokumen harus diuji untuk menentukan struktur wewenang dan tanggung jawab organisasi. Kedua hal tersebut memang sulit karena terkadang kita menjumpai tugas-tugas yang saling tumpangtindih, wewenang-wewenang yang tidak sesuai dengan tanggung jawabnya dan pengeluaran-pengeluaran yang sulit ditentukan siapa yang sebenarnya harus bertanggungjawab.
UKURAN PRESTASI : Moneter dan Nonmoneter
            Laporan prestasi hampir selalu dinyatakan dengan unit moneter (uang), karena unit moneter dianggap sebagai denominator umum dan dapat dijumlahkan. Namun demikian, ukuran-ukuran prestasi yang tidak menggunakan unit moneter tidak boleh diabaikan. Selisih laba yang dihasilkan dari tindakan yang tidak sesuai etika dan hukum. Umpamanya, sudah barang tentu tidak patut kita puji. Para manjer yang berpandangan sempit boleh jadi mengambil tindakan yang hanya menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi membahayakan perusahaan dalam jangka panjang.
            Orang-orang yang bertanggung jawab terhadap terlaksananya aktivitas tertentu, terutama yang menduduki lini pertama, secara rutin harus disodori ukuran-ukuran prestasi moneter dan nonmoneter. Ukuran nonmoneter harus dinyatakan dalam hubunganya dengan aktivitas atau sumberdaya yang harus mereka pertanggungjawabkan.
Frekuensi Pelaporan Prestasi
            Frekuensi pelaporan prestasi harus disesuaikan dengan kebutuhan agar manajer dapat melakukan tindakan perbaikan dengan tepat. Meskipun laporan prestasi tahunan memang dapat membantu rencana mengembangkan dan mengevaluasi prestasi manajer, namun tidak berguna untuk menyesuaikan operasi sepanjang tahun. Jika laporan prestasi harian diperlukan oleh manajer tertentu, maka laporan dengan frekuensi harian memang perlu dibuat. Akan tetapi manfaat dan biaya laporan perlu dipertimbangkan. Masalah ini mengingatkan kita bahwa frekuensi pelaporan itu berbeda-beda bergantung pada jenjang manajemen dan tingkatan karyawan pada setiap jenjang.
PUSAT-PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN
            Dalam akuntansi pertanggungjawaban, laporan prestasi disiapkan untuk setiap segmen. Segmen dapat berupa departement, bagian-bagian yang lebih kecil dari departemen atau sekelompok departemen yang beroprasi dibawah kendali dan wewenang seorang manajer yang bertanggung jawab, setiap unit organisasi yang disiapkan laporan prestasinya disebut pusat pertanggungjawaban. Untuk tujuan evaluasi pretasi keuangan, pusat-pusat pertanggungjawaban diklasifikasikan menjadi pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba dan pusat investasi.
            Pusat biaya (cost center) secara finansial hanya bertanggung jwab atas terjadinya biaya. Pusat biaya tidak memiliki tanggung jawab untuk memperoleh pendapatan. Pusat biaya boleh jadi berupa segmen yang lebih kecil dari departemen dan dapat juga lebih besar yang mencakup aspek utama sebuah organisasi.
            Pusat pendapatan (revenue center) bertanggung jawab atas timbulnya pendapatan, baik dari penjualan barang dagangan dari barang jadi maupun jasa. Jika pendapatan dan biaya dievaluasi secara terpisah, maka pusat pertanggungjawaban tersebut tersebut mempunyai tanggungjawab ganda (dual responbility).
            Pusat laba (profit center) bertanggung jawab terhadap laba, yaitu selisih antar pendapatan dan biaya. Perusahaan secara keseluruhan dapat dianggap sebagai pusat laba.
Mengukur Efesiensi dan Efektivitas
            Efesien selalu diukur dengan menggunakan anggaran fleksibel, bukan anggaran statis. Prestasi departemen produksi tidak hanya diukur dari sudut pandang efiensinya, tetapi juga efektivitansya. Efisiensi merupakan perbandingan antara biaya sesungguhnya dan anggaranya, adapun efektivitas merupakan perbandingan antara volume produksi yang dicapai dan volume produksi yang menjadi target.
Biaya Standar
            Biaya standar             (standard cost) adalah anggaran untuk membuat satu unit produk. Biaya standar menunjukan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan unrtuk membuat satu unit produk dalam kondisi operasi yang efesien. Biaya standar dapat ditetapkan dengan menganalisis biaya produksi secara teknik atau dengan menganalisis data historis yang disesuakan dengan perubahan-perubahan yang dapat terjadi, baik perubahan dalam produk, perubahan dalam teknologi, maupun perubahan dalam biaya.
Pusat Biaya Standar dan Pusat Biaya Kebijakan
            Pusat biaya dapat dibedakan menjadi pusat biaya standar dan pusat biaya kebijakan. Pusat biaya standar (standart cost center), atau sering disebut juga pusat biaya teknik (engineered cost center), adalah pusat biaya yang sebagian besar hubungan antara input dan outputnya dapat ditentukan secara jelas.
            Pusat biaya kebijakan (discretionary cost center) adalah pusat biaya yang sebagian besar hubungan antara input dan outputnya tidak dapat atau sulit ditentukan.
            Biaya kebijakan (dicretionary cost) ditetapkan dalam tahun anggaran tertentu dengan jumlah tetap menurut kebijakan manajemen. Perubahan biaya ini tidak berpengaruh pada produksi atau kapasitas jasa dalam jangka pendek.
Memasukan Unsur Biaya Dalam Menilai Prestasi Pusat Pendapatan
            Biaya terkendali juaga harus dipertimbangkan pada waktu menilai secara keseluruhan prestasi pusat pendapatan. Jika tidak mempertimbangkan biaya, maka pusat pendapatan terdorong untuk melakukan praktik penjualan yang tidak ekonomis. Praktik yang tidak ekonomis itu misalnya adalah periklanan yang berlebihan dan terlalu banyak menghabiskan waktu unutk melayani pelanggan kecil. Biaya terkendali pada pusat pendapatan mencakup biaya penjualan tetap dan variabel.
            Biaya-biaya penjualan dapat diklasifikasi menjadi order getting cost dan order filling cost. Order getting cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapat order dari konsumen, misalnya biaya periklanan, gaji dan komisi pramuniaga, biaya perjalanan dan telpon. Order felling cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk penyerahan barang sampai ketangan konsumen, misalnya biaya penyimpanan, pembungkusan, dan pengangkutan.
LAPORAN PRESTASI PUSAT LABA
            Laporan prestasi untuk pusat laba membandingkan antara laba yang sesungguhnya dicapai dan laba menurut anggaran. Terdapat 2 jenis pengukuran profitabilitas dalam pusat laba. Pertama, pengukuran prestasi manajemen, yaitu mengukur keberhasilan manajer. Kedua, pengukuran prestasi ekonomi, yaitu mengukur keberhasilan pusat laba sebagai kesatuan ekonomi.
Berbagai Tipe Pengukuran Profitabilitas
Profitabilitas manajer pusat laba dapat diukur dengan 5 tipe pengukuran sbb :
1.      Contibution Margin
2.      Laba langsung
3.      Laba terkendali
4.      Laba sebelum pajak
5.      Laba bersih



DESENTRALISASI

Sentralisai versus desentralisasi
            Sentralisasi adalah pemusatan pada manajemen teras untuk mengambil semua wewenang keputusan. Semua fungsi utama perusahan (misalnya fungsi-fungsi pemasran, produksi, dan personalia), dalam prusahaan sentralistis, dikendalikan oleh menejemen teras. Sentralisai memiliki kebaikan dan kelemahan.
            Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang kepada manjer pelaksana, yang jenjangnya lebih rendah, untuk mengambil keputusan tertentu di unit organisasi yang dipimpinya. Semakin rendah jenjang manajer yang diberi delegasi wewenang, maka semakin besarlah desentralisasi.
Pengukuran Prestasi
            Akuntansi pertanggung jawaban, sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya adalah penyusunan pelaporan prestasi yang dikaitkan kepada individu atau manajer dalam suatu organisasi, yang menekankan pada faktor-faktor yang dapat dikendalikanya. Laporan-laporan akuntansi pertanggungjawaban dapat dibuat untuk pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba, dan pusat investasi.
RETURN ON INVESMENT (ROI)
ROI mengukur laba per rupiah investasi. Rumus untuk menghitung ROI adalah
ROI = Laba / investasi
ROI dapat juga dihitung secara rinci dengan rumus :
            ROI = Perputaran investasi x Profit margin
Adapun perputaran investasi dan profit margin adalah :
            Perputaran investasi = penjualan / investasi
            Profit margin             = laba / penjualan
Apabila perputaran investasi dikalikan dengan profit margin, maka hasilnya sama dengan laba dibagi investasi, seperti berikut ini :
            ROI = penjualan / investasi x laba / penjualan
= laba / investasi
Kebaikan ROI
            Ada 3 kebaikan ROI :
1.      ROI mendorong manajer SBU untuk memperhatikan saling hubungan antara penjualan, biaya dan investasi.
2.      ROI medorong manajer SBU untuk menghemat biaya
3.      ROI mencegah investasi yang dipandang berlebihan
Kelemahan ROI
            Ada 2 kelemahan ROI :
1.      ROI mendoorong manajer untuk tidak melakukan investasi yang akan menurunkan ROI serata SBU, meskipun sebenarnya investasi tersebut menaikan laba perusahaan secara keseluruhan. Kelemahan ini akan dijelaskan dibagian yang membahas residual income.
2.      ROI mendorong manajer untuk memfokuskan laba jangka pendek (short run) yang merugikan perusahaan jangka panjang (long run).
Dasar investasi
            Meskipun ROI merupakan konsep sederhana dan relevan, namum ROI SBU belum dapat dihitung apabila manajemen belum menentukan bagaimana laba dan investasi SBU harus diukur. Karena maksud utama dari perhitungan ROI adalah untuk mengavaluasi efektivitas masing-masing SBU dengan menggunakan aktiva yang dipergunakan oleh SBU tersebut, maka banyak perusahaan menentukan investasi sebesar rerata dari unvestasi total sebuah SBU selama periode evaluasi.
Laba SBU
            Laba SBU adalah pendapatan SBU dikurangi biaya operasi SBU. Biaya-biaya kanntor pusat yang dialokasi ke SBU tidak boleh dimasukan sebagai biaya SBU untuk tujuan perhitungan ROI, kecuali untuk jasa yang secara pasti atau jelas dapat diidentifikasi ke SBU tertentu, seperti biaya variabel untuk memproses piutang SBU.
RESIDUAL INCOME (RI)
            RI sebagai alternatif untuk mengukur prestasi SBU adalah selisih antara laba SBU dan kembalian minimal (minimum required rate of return) yang telah dotetapkan oleh kantor pusat. Kembalian minimal adalah presentase tertentu dikalikan dengan aktiva SBU. Apabila RI digunakan untuk mengevaluasi prestasi SBU, maka manajer masing-masing SBU lebih termotivasi untuk lebih memaksimalkan RI, bukan ROI.
Kebaikan RI
            Telah dijelaskan salah satu kelemahan ROI bahwa manajer SBU mungkin menolak usulan investasi yang sebenarnya menguntungkan perusahaan tetapi menurunkan ROI rerata SBUnya. Kelemahan ini tidak dijumpai kalau kita menggunakan RI. Inilah keunggulan utama RI dibandingkan ROI. Keunggulan lainya adalah bahwa RI dapat menggunakan kembalian minimal yang berbeda-beda untuk berbagai jenis aktiva.
Kelemahan RI
            Ada 2 kelemahan :
1.      RI, sebagaimana ROI, dapat mendorong manajer untuk berpandangan  jangka pendek.
2.      Tidak seperti ROI, RI adalah ukuran profitabilitas absolut, yakni dalam angka rupiah. Jadi, apabila tingkat investasi dua SBU berbeda, maka pembandingan langsung prestasi dua SBU tersebut tidak adil.

KONSEP DAN TERMINOLOGI BIAYA



KONSEP DAN TERMINOLOGI BIAYA

A.     KONSEP BIAYA

Persatuan Akuntansi Indonesia menggunakan istilah biaya sebagai cost dan istilah beban sebagai axpense. Cost adalah pengorbanan sumber daya ekonomis tertentu untuk memperoleh sumber daya ekonomis lainnya. Secara sederhana cost adalah sejumlah kas yang dikeluarkan untuk membeli barang dagangan. Sedangkan Expense adalah pengorbanan sumber daya ekonomis untuk memperoleh penghasilan. Jika barang dagangan dijual, maka cost yang melekat pada barang dagangan tersebut kini berubah menjadi expense. Pada pembahasan selanjutnya istilah harga pokok dinyatakan sebagai cost, dan istilah harga pokok penjualan dinyatakan sebagai expense.

B.      KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN FUNGSI PERUSAHAAN

1. Biaya Produksi
Adalah biaya - biaya yang diperlukan untuk memperoleh bahan baku (mentah) dari pemasok dan mengubahnya menjadi produk selesai yang siap dijual. Elemen biaya produksi terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

2. Biaya Penjualan
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk selesai, termasuk biaya iklan, Biaya gaji para pramuniaga, biaya angkut barang - barang yang di jual, dan gaji manajer pemasaran.

3. Biaya Administrasi
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk administrasi secara umum, seperti gaji para eksekutif , biaya penyelenggaraan akuntasi, gaji pegawai bagian administrasi dan biaya habis pakai.

C.      KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN PERIODA

1.      Biaya Produk
Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau memproduksi barang/produk . Biaya-biaya ini dipertemukan (ditandingkan) dengan pendapatan pada periode penjualan produk.

2.      Biaya Perioda
Adalah biaya yang diindentifikasi dengan interval waktu tertentu karena tidak diperlukan untuk memperoleh barang/produk yang akan dijual. Biaya perioda diakui sebagai biaya (ditandingkan dengan penghasilan) pada perioda terjadinya. Biaya-biaya ini tidak boleh dimasukkan sebagai elemen harga pokok persediaan dan karenanya disebut juga noniventoriable cost. Contoh biaya perioda adalah gaji manajer pemasaran, gaji direktur, penyusutan gedung kantor administrasi, biaya iklan, biaya listrik untuk kantor administrasi dan pemasaran, rekening langganan Koran, biaya telpon, dan lain sebagainya.

D.      KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN PENELUSURAN OBJEK BIAYA

1.      Biaya Langsung
Adalah biaya yang dapat ditelusuri atau diidentifikasi ke suatu objek biaya tertentu karena hanya dikeluarkan untuk manfaat objek biaya itu sendiri.

2.      Biaya Tak Langsung
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk lebih dari suatu objek biaya dan tak dapat ditelusuri ke salah satu objek biaya tertentu;karenanya biaya tersebut bersifat umum disebut common cost.

E.       KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN PERUBAHAN VOLUME KEGIATAN

1.      Biaya Tetap
Adalah biaya yang jumlah totalnya tetap, tidak berubah untuk suatu periode tertentu. Biaya tidak akan naik ataupun turun meskipun volume kegiatannya bervariasi.
Jadi, biaya tetap adalah biaya yang totalnya tetap untuk suatu perioda tertentu dan per unitnya berubah – ubah berbanding terbalik dengan volume kegiatan.

2.       Biaya Variabel
(variable cost) adalah biaya yang jumlah totalnya bervariasi secara proporsional dengan variasi volume kegiatan, tetapi jumlah per unitnya tetap. Sebagai contoh adalah upah tenaga kerja langsung sebesar 1.000 rupiah untuk setiap unit produk yang dihasilkan. Upah adalah 5.000 rupiah bila 5 unit yang diproduksi dan upah adalah 10.000 rupiah bila 10 yang diproduksikan . perhatikan bahwa upah total berubah-ubah sesuai jumlah produk yang dihasilkan, akan tetapi upah per unitnya konstan. Biaya bahan baku , komisi berdasarkan persentase penjualan, dan biaya telepon berdasarkan lamanya penggunaan merupakan contoh biaya variabel.

3.      Biaya Semi Variabel
Adalah biaya – biaya yang totalnya selalu berubah tetapi tidak proposional dengan perubahan volume kegiatan perusahaan. Dalam biaya semi variabel ini terkandung unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel. Contoh biaya semi variabel yang tingkat perubahannya semakin rendah adalah biaya tenaga kerja yang dikaitkan dengan kurva belajar. Untuk tingkat perubahanya semakin tinggi adalah biaya energi.

F.      KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN KENDALI MANAJER

1.      Biaya Terkendali
Adalah biaya yang secara signifikan dapat di pengaruhi dan dikendlikan oleh manajer tertentu pada perioda tertentu.

2.       Biaya Tak Terkendali
Adalah biaya yang secara signifikan tak dapat di pengaruhi dan di kendalikan oleh manajemen tertentu pada perioda tertentu.

G.     KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

1.      Biaya Relevan
Adalah biaya akan terjadi dimasa mendatang perbedaan di antara pelbagai alternative keputusan. Sebagai contoh, manajemen akan memilih alternatif mengunakan mesin foto copy merek X atau merek Y. upah operator mesin foto copy mungkin releven dan mungkin tak relevan jika upah operator mesin foto copy X sama dengan upah operator mesin foto copy merek Y, maka upah bukanlah biaya relevan dalam pengambilan keputusan ini.tetapi Jika berbeda,maka upah operator adalah biaya relevan. Beda antara dua atau lebih biaya relevan di sebut differential cost.

2.      Biaya Tak Relevan
Adalah biaya yang tak memenuhi salah satu atau kedua-duanya dari kriteria biaya relevan Oleh karena itu biaya tak relevan tidak perlu dipertimbangkan di dalam pengambilan keputusan. Nilai buku aktiva tetap yang sekarang di gunakan merupakan contoh biaya tak relevan .Nilai buku adalah cost aktiva tetap yang belum didepresiasi. Keputusan apapun yang akan diambil oleh manajemen terhadap aktiva tetap tersebut tidak akan dapat mengubah cost yang masih tersisa itu.

3.      Biaya Terhindarkan
Adalah biaya yang dapat dihindarkan jika satu alternatif keputusan diambil. Misalnya, perusahan mempunyai tiga bagian penjualan lini produk A, B, dan C . jika bagian lini produk A akan ditutup maka gaji pegawai pada bagian itu dapat di hindarkan, dalam arti tidak akan dikeluarkan lagi gaji tersebut.

4.      Biaya Tak Terhindarkan
Jika dikaitkan dengan relevansi biaya terhadap keputusan ,maka biaya terhindarkan adalah biaya relevan dan biaya tak terhindar adalah biaya tak relevan. biaya penyusutan ruangan yang di tempati bagian itu tidak akan dapat dihindarkan .Biaya seperti ini di sebut unavoidable cost atau biaya tak terhindarkan.

H.     KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN DAMPAK KEPUTUSAN

1.      Sunk Cost
Adalah biaya yang telah dikeluarkan dan yang tak dapat diubah oleh keputusan sekarang atau masa yang akan datang. Karena tak dapat diubah kini dan yang akan datang , biaya tersebut tak dapat di gunakan untuk menganalisa alternatif tindakan yang akan datang. Dengan kata lain,biaya ini tidak akan pernah relevan dengan pengambilan keputusan sekarang.

2.      Biaya Tunai
(out-of pocket cost) adalah biaya yang membutuhkan pengeluaran kas di masa mendatang akibat keputusan sekarang atau keputusan yang akan datang. Sebagai contoh,perusaahan sekarang mengambil keputusan untuk melakukan ekspansi usaha. Keputusan ini mengakibatkan munculnya biaya – biaya tertentu seperti upah karyawan akan dipekerjakan dan bahan habis pakai yang akan di gunakan. Biaya biaya ini sudah barang tentu memerlukan pengeluaran kas. Itulah biaya tunai.

I.        KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN PEMANFAATAN
Opportunity cost adalah manfaat potensial yang hilang atau dikorbankan karena dipilihnya satu alternatif keputusan tertentu. Manfaat potensial ini dapat berupa penghasilan (revenue) atau penghematan biaya (cost saving). Sebagai contoh : Sebuah perusahaan memilki beberapa buah gudang.